Media
dalam Perspektif Ekonomi dan Politik
1. Pendahuluan
Setiap
orang percaya bahwa media memang memiiki kekuatan persuasi meskipun secara
mengejutkan adalah sulit untuk menetapkan secara akurat kekuatan jenis apakah
yang dimiliki media. Kekuatan utama media terletak pada fakta bahwa media dapat
membentuk apa yang kita ketahui tentang dunia dan dapat menjadi sumber utama
untuk berbagai ide dan opini. Media dapat mempengaruhi cara kita berpikir dan
bertindak. Kekuatan ini makin besar jika kita mengamati media secara keseluruhan
bukan hanya memperhatikan media individual seperti televisi. Media mencakup
bagaimana komponen utama dari komunikasi yang diantaranya seperti proses,
produksi dan distribusi pesan.
Semua
pesan (terutama media) harus disusun (dienkodekan) dalam sebuah bentuk
komunikasi. Bagaimana pesan disusun cenderung mempengaruhi bagaimana pesan
tersebut dipahami. Sebuah item berita dari masing – masing media tentunya
berbeda dari sisi perspektifnya walaupun terkadang memuat pemberitaan yang
sama. Hal ini tentunya ketika melihat media massa bukan hanya dipandang dari
sisi pengaruh secara empiris data, melainkan juga melihat dari sisi bagaimana
pesan tersebut di produksi dan apa yang ada dibalik produksi pesan tersebut. Perspektif
media dalam merepresentasikan sebuah peristiwa terkadang mampu mengangkat kisah
yang “melebihi” fakta yang dimana media terkadang mencampurkan opini dan berita
sehingga berita yang berspektif subjektif kemudian menjadi permasalahan dalam
pemberitaan terutama tidak terpenuhinya tuntutan obyektif profesionalitas dan
etika media. Tak sedikit kekuatan struktur media ini mampu mempengaruhi
persepsi publik. Hal ini tentunya terkait bagaimana makna dalam teks
pemberitaan yang dibangun “dikonstruksi” oleh media tersebut.
Kemajuan
teknologi informasi dewasa ini mengakibatkan efek yang sangat luas, termasuk di
dalamnya media, ekonomi dan politik. Derasnya perubahan arus globalisasi
mendorong untuk pemahaman mendalam terhadap perkembangan media, ekonomi dan
politik. Media adalah institusi sosial yang berkaitan dengan kekuasaan/kekuatan
dan pengaruh persuasif. Media massa merupakan saluran, yang menghubungkan
komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal
yang jauh atau berpencar-pencar, sangat heterogen, dan menimbulkan efek
terentu. Oleh karena itu bukan tidak mungkin bahwa terdapat kajian mengenai
media dalam perspektif ekonomi dan politik.
2. Ekonomi Politik Media
Menurut Doyle (2002) perkembangan media massa yang liberal dan global mencerminkan dominannya dunia struktur politik dan ekonomi, dan pemilik modal. Dalam era globalisasi maklumat yang melanda negara-negara di dunia termasuk Indonesia muncul kecenderungan organisasi media komunikasi yang lebih mementingkan aspek komersial. Ketidak adilan media massa sebagai medium suara rakyat mendapat kecaman daripada berbagai kelompok masyarakat.
Pendekatan
ekonomi politik pada dasarnya mengaitkan aspek ekonomi (seperti kepemilikan dan
pengendalian media), keterkaitan kepemimpinan dan faktor-faktor lain yang
menyatukan industri media dengan industri lainnya, serta dengan elit politik,
ekonomi dan sosial. Atau dalam bahasa El1iot, studi ekonomi politik media
melihat bahwa isi dan makud yang terkandung dalam dalam pesan-pesan media
ditentukan oleh dasar ekonomi dari organisasi media yang menghasilkannya.
Organisasi media komersial harus memahami kebutuhan para pengiklan dan harus
menghasilkan produk yang sanggup meraih pemirsa terbanyak. (Sudibyo, A, 2000)
Teori ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Teori ini mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para praktisi media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang sedang mapan. Dimana penguasa membatasi produksi konten yang dilakukan pekerja media, sehingga konten media yang diproduksi tersebut kian memperkuat status quo. Sehingga menghambat berbagai upaya untuk menghasilkan perubahan sosial yang konstruktif. Upaya penghambatan para pemilik pemodal, bertolak belakang dengan teoritikus ekonomi politik ini, yang justru aktif bekerja demi perubahan sosial.
Menurut Barant (2010:263), para teoritikus ekonomi politik menitikberatkan pada bagaimana proses produksi konten dan distribusi dikendalikan. Kekuatan utama teori ini terletak pada kemampuannya dalam menyodorkan gagasan yang dapat dibuktikan secara empiris, yakni gagasan yang menyangkut kondisi pasar. Salah satu kelemahan aliran ekonomi politik ialah unsur-unsur yang berada dalam kontrol publik tidak begitu mudah dijelaskan dalam pengertian mekanisme kerja pasar bebas. Walaupun aliran memusatkan perhatian pada media sebagai proses ekonomi yang menghasilkan komoditi (isi), namun aliran ini kemudian melahirkan ragam aliran baru yang menarik, yakni ragam aliran yang menyebutkan bahwa media sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian media mengarahkan perhatian khalayak ke pemasang iklan dan membentuk perilaku publik media sampai pada batas-batas tertentu.
Ekonomi politik
adalah pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur
ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media.
(McQuail,2011:105). Melihat hal ini maka institusi media merupakan sebagai
bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan erat kepada sistem politik. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya sumber media yang independen, konsentrasi pada
khalayak yang lebih luas, menghindari risiko, dan mengurangi penanaman modal
pada tugas media yang kurang menguntungkan. Pada sisi lainnya, media juga akan
mengabaikan kepentingan khalayak potensial yang kecil dan miskin, karena
dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan terhadap kelompok masyarakat
minoritas, cenderung tidak seimbang. Barant (2011:250) menyebutnya teori
ekonomi politik media fokus pada penggunaan elite sosial atas kekuatan ekonomi
untuk mengeksploitasi institusi media. (Sucahya.M, 2013)
Chomsky seperti
dikutip oleh David Cogswell (2006) menyatakan bahawa media massa adalah sistem
pasaran yang terpimpin, didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Hal ini
menandakan bahawa media massa tidak lagi netral. Pada era demokratik dan
liberal seperti sekarang media massa penyiaran tidak lagi dipandang sebagai
kekuatan civil society yang harus dijamin kebebasannya, disebaliknya dilihat
sebagai kekuatan kapitalis, bahkan politik elit tertentu. Kekuatan media massa
itu berupaya mengkooptasi, bahkan menghegemoni negara sehingga masyarakat. Hal
inilah yang perlu dicermati secara kritis oleh para penggiat demokratik,
termasuk para wartawan. Jangan sampai kekuatan demokratik dibelenggu atas nama
kebebasan media massa untuk kepentingan politik para kapitalis penguasa media
massa.
Dalam masalah
pendemokrasian sistem media massa, keterbukaan akses juga ditentukan oleh
hubungan kuasa. Penggunaan kuasa dalam media massa pula bergantung pada faktor
fasilitas ekonomi maupun politik. Dalam era globalisasi maklumat yang melanda
negara-negara dunia, muncul kecenderungan bahwa organisasi media massa lebih
mementingkan aspek komersial, kepentingan politik dan pemilik modal (Giddens.A.
1993.Peter Golding & Graham Murdock (2000). Keadaan ini dapat menjadi
sebagai penghalang pendemokrasian sistem media massa.
Kesimpulan
Ruang publik adalah bagian penting
dalam masyarakat demokrasi. Ketika kapitalisme masuk terlalu jauh dan
mempengaruhi ruang publik seseorang, dimungkinkan akan terjadinya kesemuan informasi.
Pikiran, ide dan gagasan akan semakin menurun baik kuantitas maupun
kualitasnya. Dampak dari iklim kapitalisme di media Indonesia mempengaruhi
terhadap konten informasi. Informasi yang disuguhkan oleh media televisi jauh
dari informasi pendidikan karena yang menjadi fokus adalah profit. Hal-hal yang
muncul adalah sensasionalisme, gaya hidup kontemporer dan jurnalisme instan.
Ketika budaya kapitalis yang diproduksi untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sulit
untuk menemukan dimana ruang publik yang sesungguhnya.
Ruang
publik yang diharapkan mampu memberikan kebaikan menjadi tantangan bersama di
masa depan. Media massa sebagai bagian dari demokrasi akan mempengaruhi
bagaimana masyarakat mengambil keputusan. Ruang publik tidak hanya menawarkan
informasi secara rasional yang dapat mengubah pandangan tentang isu publik
namun juga dapat mengubah kehidupan seseorang dengan kekuatan untuk
menggerakkan masyarakat.
Komentar
Posting Komentar